Mr Bas

1 November 2010

Pembentukan magma dan Kulit Bumi

Filed under: Sains — ......Mr Bas @ 11:17 PM

Proses pembentukan kembali kulit bumi yang berupa gunung, pegunungan, plato, lembah, dan retakan yang terjadi akibat gerakan lempeng bumi dinamakan gejala diastrofisme. Peristiwa-peristiwa akibat tenaga endogen mengakibatkan permukaan bumi menjadi berbagai bentuk. Hasil bentukannya dapat berupa lipatan atau patahan.

1. Lipatan

Bentuk muka bumi berupa lipatan terjadi karena adanya tekanan-tekanan mendatar terhadap lapisan sedimen. Lipatan memiliki dua bagian, yaitu antiklinal dan sinklinal.

a. Antiklinal merupakan bagian lipatan yang memiliki posisi lebih tinggi dari bagian lipatan lainnya. Lipatan antiklinal akan membentuk bumi menjadi cembung, contohnya pegunungan atau perbukitan.

b. Sinklinal merupakan bagian lipatan yang memiliki bagian yang lebih rendah dari bagian lipatan lainnya. Lipatan sinklinal akan membentuk permukaan bumi menjadi cekung, contohnya lembah.

Suatu formasi lipatan yang kompleks dapat terjadi apabila ada gabungan lipatan sinklinal dan antiklinal. Puncak lipatan biasanya disebut antiklinorium, sedang cekungan lipatan biasa disebut sinklinorium. Bentuk-bentuk lipatan ada beberapa macam di antaranya adalah lipatan tegak, miring, menggantung, isoklinal, dan rebah.

Puncak lipatan dapat berbentuk memanjang, sehingga membentuk suatu rangkaian pegunungan hingga ribuan kilometer. Rangkaian pegunungan ini dinamakan sirkum. Di permukaan bumi, ada dua rangkaian sirkum pegunungan lipatan, yakni Sirkum Pegunungan Mediterania dan Sirkum Pegunungan Pasifik.

a. Sirkum Pegunungan Mediterania

Sirkum Mediterania memanjang dari wilayah Pegunungan Atlas di Maroko Afrika Utara, ke Pegunungan Alpen di Swiss, Pegunungan Kaukasus di Asia Tengah, hingga Pegunungan Himalaya dan menurun di Teluk Benggala, India. Pegunungan ini naik dan muncul lagi di pegunungan sekitar Andaman, hingga ke beberapa pegunungan di wilayah Indonesia, yaitu pegunungan Bukit Barisan di Sumatra, Jawa, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, dan berakhir di kepulauan sekitar Laut Banda (Pulau Buru). Amatilah peta dunia, temukan daerah yang disebutkan di atas dan tariklah garis untuk mendapatkan polanya.

b. Sirkum Pegunungan Pasifik

Sirkum Pasifik memanjang melintasi sepanjang wilayah di Samudra Pasifik mulai dari pegunungan di Selandia Baru, wilayah pegunungan di kepulauan sekitar Sulawesi, Papua, Halmahera, ke Pegunungan di Filipina, Jepang hingga ke Pegunungan Sierra Nevada, Pegunungan Rocky di Amerika Serikat, dan berakhir di Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

2. Patahan

Bentuk patahan disebabkan adanya perubahan posisi kulit bumi akibat tekanan tenaga endogen. Patahan umumnya terjadi pada bagian kulit bumi yang berbentuk batuan. Bidang tempat terjadinya patahan dapat bergeser dari tempatnya semula. Pergeseran tersebut dinamakan sesar.

Berdasarkan arahnya, patahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu patahan vertikal dan patahan horizontal.

a. Patahan Vertikal

Apabila bagian-bagian sesarnya bergerak ke atas atau ke bawah dinamakan patahan vertikal. Bila bagian sesarnya tampak bergerak ke atas, maka dinamakan sesar naik, sedangkan bila bagian sesarnya tampak seperti turun, maka dinamakan sesar turun. Bagian patahan yang rendah atau turun disebut graben. Bagian ini akan membentuk lembah dari patahan. Sementara, bagian yang lebih tinggi atau naik dinamakan horst. Bagian ini merupakan puncak patahan.

b. Patahan Horizontal

Patahan horizontal merupakan patahan yang sesarnya bergerak mendatar. Posisi pergeseran sesar mendatar, sehingga tidak membentuk cekungan ataupun puncak dari posisi sebelumnya. Biasanya pada patahan jenis ini, bagian kulit bumi yang patah hanya tampak seperti garis atau belah saja.

3. Vulkanisme

Vulkanisme merupakan gejala alam akibat pergerakan magma. Magma berada di bawah kulit bumi dan berbentuk cair serta berpijar. Magma dapat bergerak naik ke permukaan bumi melalui saluran-saluran seperti pipa yang disebut diatrema. Magma yang telah sampai di permukaan bumi disebut lava atau lahar. Pergerakan magma dibedakan menjadi dua macam, yaitu intrusi dan ekstrusi.

a. Intrusi Magma

Intrusi magma atau disebut juga plutonisme, merupakan pergerakan magma memasuki celah-celah kulit bumi, namun tidak sampai naik ke permukaan. Intrusi magma dapat menyebabkan terbentuknya bagian-bagian bumi sebagai berikut.

1) Keping intrusi atau sill yakni magma beku yang bentuknya lebar namun tipis, mendatar berada di antara lapisan sedimen.

2) Batolit, yakni dapur magma beku yang tidak beralas.

3) Lakolit, yakni magma yang berada di antara dua lapisan batu dengan bentuk cembung dengan alas mendatar.

4) Korok atau gang, yakni magma beku yang posisinya memotong lapisan sedimen secara vertikal.

5) Apofisa, yakni cabang atau gumpalan dari korok.

b. Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma merupakan pergerakan magma dari dapur magma ke permukaan bumi. Kita dapat menyaksikan peristiwa alam ini melalui letusan gunung berapi.

Ekstrusi magma berdasarkan materi yang dikeluarkan dibedakan menjadi tiga yaitu:

1) erupsi eksplosif, yakni keluarnya magma dengan cara terlempar dengan materi relatif padat,

2) erupsi effusif, yakni magma keluar dengan cara meleleh dan bentuk materi cair, dan

3) erupsi campuran, yakni keluarnya materi padat dan materi cair secara bergantian.

Peristiwa vulkanisme dapat mengubah kulit bumi sehingga terdapat bentuk permukaan bumi yang seperti cekungan. Pada gunung berapi, cekungan ini akan berbentuk seperti mangkuk yang menampung lava, kita menyebutnya kawah. Kawah yang tidak terdapat di puncak gunung dan berukuran sangat luas disebut kaldera.

Berdasarkan tempat keluarnya magma ke permukaan bumi proses ekstrusi atau erupsinya dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

a. Erupsi sentral, yaitu magma keluar dengan cara memusat pada sebuah titik seperti kawah atau kepundan gunung api.

b. Erupsi linear, yaitu magma keluar melewati jalur patahan tanah yang memanjang sehingga tampak seperti garis yang memanjang.

c. Erupsi areal, yaitu magma keluar ke permukaan bumi di areal yang luas karena dapur magmanya sangat dangkal.

4. Tipe-Tipe Gunung Api

Bentuk-bentuk gunung pada permukaan bumi dapat terjadi karena beberapa sebab. Sebab pertama yaitu karena adanya lipatan pada kulit bumi. Adapun yang kedua karena adanya penumpukan kulit bumi yang disebabkan oleh erupsi magma dari perut bumi. Penumpukan kulit bumi karena erupsi magma disebut gunung api.

Bentuk gunung api ada berbagai jenis, antara lain sebagai berikut.

a. Gunung Api Kerucut

Gunung api kerucut atau gunung api strato memiliki bentuk seperti kerucut. Jenis gunung api kerucut paling banyak ada di permukaan bumi. Gunung api ini terbentuk karena adanya erupsi efusif (magma yang meleleh) dan erupsi eksplosif (letusan magma). Letusan gunung api melepaskan eflata yang kemudian tertimbun di sekitar pusat erupsi. Eflata ialah bahan padat yang keluar karena tekanan erupsi. Timbunan lapisan eflata tersebut kemudian menyatu dengan lava beku di sekitar pusat ledakan erupsi, sehingga membentuk badan gunung. Jenis gunung ini paling banyak terdapat di Indonesia. Contohnya Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Fujiyama.

c. Gunung Api Corong

Gunung api corong atau gunung api maar terbentuk karena letusan yang kuat atau eksplosif yang membentuk timbunan eflata sehingga memiliki bentuk seperti corong. Lereng gunung api corong biasanya tidak terlalu curam seperti gunung api kerucut. Gunung api tipe ini memiliki bagian tengah yang kedap air disebut kepundan atau maar. Kepundan sebenarnya adalah kawah yang bila terisi hujan akan membentuk danau. Contoh danau yang terbentuk di gunung api corong misalnya Danau Klakah di Gunung Lamongan.

5. Gejala-Gejala Vulkanisme

Peristiwa vulkanisme atau letusan gunung api selalu diikuti oleh keluarnya materi-materi dari dalam bumi baik yang berupa cair yang disebut lava atau yang berupa padat yang disebut bahan

piroklastika. Bahan-bahan piroklastika meliputi batu-batu besar (bom), batu-batu kecil (lapili), kerikil, pasir, dan abu vulkanis.

a. Gejala Awal Vulkanisme

Sebuah gunung api yang akan meletus biasanya didahului oleh gejala-gejala awal atau tanda-tanda, yaitu sebagai berikut.

1) Sering terdengar suara gemuruh yang ditimbulkan oleh naiknya magma.

2) Asap semakin tebal akibat panas magma.

3) Suhu naik di sekitar kawah.

4) Sumber air banyak yang kering.

5) Tanaman banyak yang layu atau kering.

6) Hewan-hewan menuruni gunung karena adanya perubahan pada suhu tanah.

b. Gejala-Gejala Post Vulkanis

Di sekitar gunung api yang sudah tidak aktif atau sedang beristirahat banyak dijumpai gejala-gejala alami yang disebut gejala-gejala post vulkanis. Gejala-gejala itu antara lain sebagai berikut.

1) Ekshalasi, yaitu keluarnya sumber-sumber gas yang terdiri atas sumber gas belerang (H2S) disebut solfatar, sumber gas gas asam arang (CO2) disebut mofet, dan sumber uap air (H2O) disebut fumarol.

2) Mata air makdani, yaitu sumber air panas yang mengandung mineral-mineral tertentu seperti belerang atau sulfur. Contohnya di Baturaden Jawa Tengah, serta Ciater dan Maribaya di Jawa Barat.

3) Geiser, yaitu sumber air panas yang memancar secara periodik karena adanya tekanan gas magma yang mendorong air di atasnya. Contohnya geiser yang terdapat di Taman Nasional Yellowstone Amerika Serikat.

Sumber :

Suprihartoyo dkk, 2009, Ilmu Pengetahuan Sosial 1 : untuk SMP dan MTs Kelas VII, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 7 – 13.

About these ads

5 Komentar »

  1. Kenapa magma itu keluar melalui dataran tinggi?
    Ada kah magma yg keluar dari dataran rendah?
    Apa yg menyebabkan magma yg ada di dalam bumi bersuhu panas?

    Komentar oleh Adung — 8 November 2010 @ 3:58 AM | Balas

    • menurut saya magma tidak hanya keluar di dataran tinggi, di dataran rendah surabaya juga pernah keluar, cuma masalahnya ketika magma keluar akan membentuk lapisan kulit bumi disekitarnya dan seterusnya sehingga menjadi tinggi datarannya….., bahkan anak krakatau malah di dalam laut toh???

      Komentar oleh ......Mr Bas — 16 Desember 2010 @ 4:24 AM | Balas

  2. bagaimana proses keluarnya magma hingga sampai ke permukaan bumi???
    tolong d jawab yahh :)

    Komentar oleh allasiafever — 17 Januari 2011 @ 9:28 AM | Balas

  3. Apakah radiasi sinar matahari mempengaruhi pergerakkan magma di dalam perut bumi ? Apa yg menyebabkan pergerakkan magma didalam perut bumi ?

    Komentar oleh Rudy Efendi — 23 Mei 2011 @ 4:26 AM | Balas

  4. terimakasih informasinya ^^ sangat membantu …

    Komentar oleh JiYoo861015 — 14 Februari 2013 @ 8:58 AM | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: